METROPOLITAN.ID– Pertarung merebut kursi
ketua umum Partai Golkar kian memanas pada Musyawarah Nasional Luar
Biasa (Munaslub) Golkar yang digelar di Nusa Dua Bali, yang dimulai hari
ini, Sabtu (14/5/2016). Panas arena Munaslub Golkar itu semakin
menguatkan isu money politics yang erseliweran di antara 8 kandidat.
Bahkan, isu main uang tersebut disebut-sebut caketum bisa memenangkan
pertarungan dengan menyiapkan money politics sebesar Rp500 miliar
hingga Rp1 triliun. Namun, steering committee maupun para kandidat
caketum kompak menampik bahwa Munaslub Golkar jauh dari politik uang.
“Nah, jika money politik kembali terjadi pada Munalsub Golkar kali
ini memang menandakan bahwa Golkar atau politik sangat identik dengan
itu. Dengan cara itu, maka para tim pemenangan caketum pun saling
melakukan strategi yang bukan lagi mengadalkan sosok atau figur yang
layak memimpin Golkar ke depan,” ungkap pakar politik dari Universitas
Hasanuddin (Unhas) Makassar, Adi Suryadi Culla kepada pojoksulsel.com,
Jumat (13/5/2016).
Hal senada juga diprediksi pengamat politik Jayadi Nas. Dia
mengatakan, jika money politics masih terjadi dalam arena Munaslub
Golkar, tentunya menjadi preseden buruk bagi Golkar yang merupakan
partai besar. Hal itu sangat sulit dipisahkan dengan kekuatan besar
dengan mengadalkan uang besar.
Justru, kata Jayadi, para kandidat menggalang koalisi yang dianggap
bagian strategis dan peluang memperebutkan jumlah pemilik suara 560 yang
terdiri dari DPP, DPD I, DPD II dan organisasi sayap mendirikan dan
yang dirikan.
Namun, sejumlah skenario dan prediksi yang bisa terjadi dengan
kondisi luar biasa. Begitu juga dimungkinkan mengalami gesekan ketika
Munaslub Golkar berlangsung.
“Partai itu memang butuh biaya mahal apalagi partai besar seperti
Golkar. Jadi, aroma money politik tetap ada di Golkar apalagi posisi
ketum, butuh biaya triliunan rupiah. Dan itu mulai tercium ketika
Steering Committee Munaslub Golkar mewajibkan iuran atau mahar bagi
setiap caketum,” tutur Jayadi kepada pojoksulsel.com.
(/pojoksulsel)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar